Kamis, 16 Juli 2015

[Book Review] The Mark of Athena

Judul: The Mark of Athena (Heroes of Olympus #3)
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Mizan Fantasi
ISBN: 978-979-433-740-0
Tebal: 616 halaman
Cetakan V, November 2014

WARNING!! SPOILERS FOR THOSE WHO HAVEN'T READ THE FIRST 2 BOOKS

Review for The Lost Hero (Heroes of Olympus #1)
Review for The Son of Neptune (Heroes of Olympus #2)

Annabeth merasa panik. Saat baru saja mendarat di Perkemahan Jupiter bersama Jason, Leo dan Piper serta bertemu kembali dengan kekasihnya, Percy, Annabeth harus menghadapi ancaman perang dari para demigod Roma. Walaupun Dia dan teman-temannya datang dengan damai, namun Argo II-kapal besar berkepala naga perunggu-memang tampak mengancam para demigod Roma.

Ketakutan terbesar Annabeth adalah kehilangan Percy yang sudah mulai terbiasa dengan cara hidup bangsa Roma dan ingin terus mengikatkan dirinya dengan para penghuni Perkemahan Jupiter.

Bersama empat narator yang berbeda, Mark of Athena akan membawa kita ke dalam petualangan melintasi lautan Roma yang penuh kejutan dan teror yang sangat mengerikan. Jika kau berani, naikilah Argo II dan ikuti petualangan serunya.

~~~

Akhirnya Annabeth, Jason, Piper, dan Leo mendarat di perkemahan Jupiter dengan kapal Argo II. Artinya mereka semua bertemu dan berkenalan dengan rekan baru mereka. Seperti yang diketahui sebelumnya bahwa demigod Yunani dan Romawi tidak akur sehingga, mereka datang dengan damai. Akan tetapi, ada kekacauan yang tidak terduga terjadi.

Tentu saja, Bangsa Romawi tidak menyukai hal tersebut sehingga mereka diburu oleh para demigod Roma. Namun, ada ramalan yang harus mereka selesaikan, ramalan tersebut menyangkut hal tentang tanda Athena yang harus ditemukan dan membebaskan teman mereka yang ditawan. Oleh karena itu, mereka harus belayar ke Roma untuk menuntaskannya. Tentu saja mereka tahu bahwa berlayar kesana tidaklah aman bagi demigod.

Selain itu, Annabeth merasa gelisah karena perintah dari ibunya untuk mengikuti Tanda Athena yang membebaninya. Seiring waktu berjalan, Annabeth tahu apa yang harus dilakukan dan ia tahu bahwa ia harus berani mempertaruhkan nyawanya begitu juga teman-temannya. Mereka di kejar oleh tenggat waktu yang mereka miliki untuk menuntaskan misi tersebut sebelum Roma hancur.

Mampukah mereka menuntaskan misi dengan tepat waktu dengan mempertaruhkan nyawa mereka? Berhasilkah mereka dari kejaran para demigod Roma? Ayo, ikuti petualangan mereka yang seru sekaligus menegangkan.


Buku ketiga dari seri ini berjalan cukup seru dan membuatku bersemangat membaca dari awal halaman. Tentu saja ada lelucon yang membuatku tertawa dan pertemuan mereka dengan demigod Roma yang membawa suasana tegang. Buku ketiga ini penuh dengan petualangan yang menantang keberanian masing-masing.

Pada buku pertama dan kedua, kita dikenalkan dengan 3 demigod Yunani dan 3 demigod Roma, tentunya kita menunggu pertemuan antara keenam demigod tersebut, serta tidak lupa Annabeth juga ikut. Buku ini ditulis dengan keempat sudut pandang, Annabeth, Leo, Piper, dan Percy. Masing-masing sudut pandang tentunya berbeda dengan caranya sendiri. Akhirnya kita mendapat sudut pandangnya Annabeth sehingga kita bisa mengetahui jalan pemikirannya. Tentu saja aku terkesan dengan jalan pemikirannya yang luar biasa cerdas. Selain itu, untunglah ada tokoh favoritku, Leo yang selalu membuatku bersemangat dari buku pertamanya. Disaat yang lain tegang, Leo dapat mencairkan suasana dengan leluconnya. Kemudian ada Piper, entah aku menjadi bersemangat dengan cerita yang diceritakan melalui sudut pandangnya. Mengingat Piper memiliki belati yang disebut Katoptris, belati tersebut memunculkan visi-visi yang berhasil membuatku sangat penasaran. Terakhir, Percy!! Selain Leo yang membuatku bersemangat, Percy juga membuatku merasa seperti itu. Sarkasmenya yang masih mengundang tawa.
"Tak pernah melihat Jason terbang sebelumnya," gerutu Percy, "dia seperti Superman pirang."
Meskipun hanya diceritakan melalui keempat orang tersebut, tokoh-tokoh lainnya juga ikut terlibat dengan di dalamnya. Dan yang membuat buku ini ramai adalah kehadiran Pak Pelatih Hedge yang cukup membuat tertawa karena aksinya dan kegemarannya dengan olahraga. Aku juga terkesan atas keberanian masing-masing tokoh ini, termasuk Annabeth dengan kecerdasannya yang membuat pembaca ingin memiliki kecerdasan seperti Annabeth. Selain kecerdasannya Annabeth, kita jangan melupakan kejeniusannya Leo. Aku sungguh terkesan akan rakitan Argo II-nya. 

Alurnya berjalan dengan cukup cepat dengan aksi-aksi yang menakjubkan disertai jalan pemikiran satu sama lain. Aku merasa bahwa buku ini juga menonjolkan pertemanan. Omong-omong soal pertemanan, aku langsung menyukai pertemanan Percy dan Jason yang cepat akrab dan pertemuan Hazel dan Leo yang mengundang rasa penasaranku. Namun, dari semua yang kusukai yang paling membuatku tertawa adalah keisengan Leo terhadap Frank. Sungguh, dijamin kalian akan tertawa. 

Banyak adengan favoritku dalam buku ini, entah mengapa kurasa sebagian besar adengan favoritku ada kehadiran tokoh Frank-Hazel-Leo. Aku akan memberi tahu 2 adengan favoritku saja, yaitu adengan Frank  dengan mainan Chinese Handcuff yang membuatku tertawa lepas, bahkan masih membuatku tertawa ketika aku membaca ulang bagian-bagian favoritku. Kemudian, petualangan kecil Leo dan Hazel yang lucu dalam mencari perunggu langit di sebuah pulau. 
"Kamilah yang melatih semua pahlawan duyung tersohor! Sebutkan saja salah satu nama pahlawan duyung, dan sudah pasti kamilah yang melatihnya!"
"Oh, baiklah," kata Leo, "misalnya ..., Little Mermaid?"
Cuplikan dialog diatas merupakan salah satu lelucon favoritku yang Leo buat. Itu saja. Buku ini memang penuh ketegangan! Dan endingnya dijamin kalian akan dibuat penasaran setengah mati. Jadi, jika kalian ingin membaca buku ini, kusarankan buku keempatnya sudah ada di tangan kalian dan jangan sekali-sekali mengintip halaman belakang :)

#TEAMLEO 

Rating:
5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...