Sabtu, 31 Oktober 2015

[Book Review] The Kill Order

Judul: The Kill Order (The Maze Runner #0.5)
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penyunting: Ade Kumalasari
Penerbit: Mizan Fantasi
ISBN: 978-979-433-892-6
Tebal: 436 halaman
Cetakan II, Agustus 2015

Catatan: bagi yang belum membaca trilogi sebelumnya, disarankan untuk membaca trilogi 'The Maze Runner' terlebih dahulu sebelum membaca buku ini.

Sebelum WICKED dibentuk, sebelum Glade dibangun, sebelum Thomas memasuki Maze, ledakan sinar matahari menerpa bumi dan menghancurkan semuanya.
Mark dan Trina selamat dari bencana itu. Tak terduga, yang terjadi setelah itu jauh lebih buruk daripada bayangan mereka. Wabah penyakit menjangkiti penduduk di permukiman-permukiman yang tersisa. Penyakit itu dengan cepat bermutasi, menggerogoti otak mereka, memaksa umat manusia bertekuk lutut karenanya.
Mark dan Trina yakin ada cara untuk menyelamatkan manusia yang tersisa sebelum mereka semua terjangkit kegilaan. Mereka bertekad untuk menemukan jalan keluarnya meski nyawa mereka menjadi taruhan. Karena di dunia baru yang luluh lantak ini, setiap nyawa ada harganya. Dan bagi sebagian orang, ada yang dianggap layak untuk hidup, tapi lebih banyak lagi yang dirasa lebih pantas mati.


~~~
"Waktu telah berlalu setahun dan semburat itu masih menggantung disana seperti tirai kabut yang dimaksudkan untuk mengingatkan mereka selamanya. Tidak ada yang tahu apakah semuanya akan kembali normal."
13 tahun sebelum WICKED dibentuk, Glade dibangun, dan Thomas memasuki Maze, terjadi ledakan sinar matahari yang menerpa bumi. Mark dan Trina selamat dari kejadian tersebut. Kini sudah setahun berlalu, mereka tetap harus berjuang untuk bertahan hidup. Bertahan hidup bersama rekan-rekannya di Pondok, mereka mengira keadaan sudah kembali normal. Namun, mereka salah.

Hingga suatu hari, Berg mendarat di sekitar pondok mereka, mengira orang-orang Berg berniat untuk membantu, namun, mereka malah menyerang dengan anak panah. Mark dan Alec, rekan Mark sekaligus mantan tentara bergegas untuk mengejar mereka. Namun, mereka juga menemukan sesuatu yang lain. Anak panah tersebut mengandung virus.
"Aku memang bukan ilmuwan, tapi mungkinkah virus itu bermutasi atau sejenisnya? Berubah saat berpindah dari satu orang ke orang lain?"
Mengetahui hal tersebut, mereka segera kembali ke Pondok. Ketika kembali, mereka mendapatkan sebagian warga Pondok menderita karena anak panah tersebut. Parahnya, penyakit tersebut bermutasi. Oleh karena itu, Mark dan Trina dihadapkan oleh pilihan yang sulit karena ada sebagian orang yang pantas mati alih-alih hidup. Mereka yakin ada cara untuk menyelamatkan umat manusia.

Akan tetapi, berhasilkah mereka menemukan cara untuk menyelamatkan umat manusia? Apa tujuan dari penyerangan dengan anak panah tersebut? Mengapa orang-orang Berg melakukannya? 


Buku ini memang menyimpan banyak jawaban atas pertanyaan tadi yang tentunya membuatku tercengang. Senang rasanya kembali ke dunia yang diciptakan oleh sang penulis ini. Setelah menonton film keduanya, aku menjadi tertarik untuk membaca buku ini untuk mencari tahu tentang asal-usul virus tersebut. Seperti yang telah diketahui, buku ini merupakan prekuel dari trilogi "The Maze Runner" yang mengisahkan asal mula virus tersebut. Buku ini dibuka dengan prolog yang tentunya membuatku sangat penasaran dan membalik halaman untuk mencari tahu lebih lanjut.

Sama seperti karya sebelumnya, prekuel ini berlatar didunia pasca-apokaliptik dan ditulis menggunakan sudut pandang ketiga dari pihak Mark. Melalui ini, aku dapat merasakan emosi-emosinya dan juga turut merasakan betapa sulit untuk bertahan hidup. Ketika membacanya, aku merasa seperti menonton film di otakku. Alur yang digunakan sebagian besar adalah maju, namun berjalan mundur ketika Mark tidur yang membawa pembaca ke mimpinya. 

Buku ini penuh dengan aksi-aksi. Kemudian, gaya penulisannya sangat detail, sang penulis mendeskripsikan suasana sekitar dengan hati-hati. Oleh karena itu, saat suasana sedang tegang, aku juga merasakan ketegangannya dan bahkan membuatku terus membayangkan suasana tersebut. Namun, disisi lain, aku terkadang merasa jenuh saat membacanya. 

Untuk tokoh-tokoh, aku hanya terkesan dengan tokoh Alec, ia sangat berani, kuat, dan mampu berpikir jernih saat keadaan sangat genting. Untuk, tokoh utama, Mark aku rasa ia seperti Thomas di buku sebelumnya, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Akan tetapi, aku terkesan atas kedekatan Mark dan Alec ini, mereka saling membantu satu sama lain.


Terlepas dari itu semua, hal yang paling menonjol adalah ketegangannya! Kemudian, penggunaan bab-bab pendek mendorongku untuk terus membaca. Di akhir bab muncul hal-hal yang tentunya membuat pembaca penasaran, bertanya-tanya "apa yang akan terjadi selanjutnya?". Hal inilah yang membuatku membalik halaman demi halaman. Disisi lain, aku terkadang merasa kurang minat untuk melanjutkannya namun, saat melanjutkannya aku menjadi tidak bisa berhenti membaca. Kemudian, aku merasa kurang puas dan merasa jenuh ketika menjelang ending yang penuh aksi. Namun, aku cukup menyukai buku ini dan jawaban yang terungkap juga membuatku tercengang. Terjemahannya sangat mudah untuk diikuti dan tidak membuat pembaca bingung. Bahkan, covernya sudah mengundang penasaran. 

Secara keseluruhan, aku cukup menyukai buku ini dengan misteri yang perlahan terungkap dan penuh aksi diselingi suasana yang cukup tegang di dunia pasca-apokaliptik. Kedepannya, aku sangat tidak sabar menunggu dan tentunya akan membaca kisah The Maze Runner yang lainnya, The Fever Code.

Rating:
3.5/5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...