Rabu, 23 Desember 2015

[Book Review] Snow Like Ashes

Title: Snow Like Ashes (Snow Like Ashes #1)
Author: Sara Raasch
Publisher: Balzer + Bray
416 pages
Year of publication: 2014

Sixteen years ago the Kingdom of Winter was conquered and its citizens enslaved, leaving them without magic or a monarch. Now the Winterians' only hope for freedom is the eight survivors who managed to escape, and who have been waiting for the opportunity to steal back Winter's magic and rebuild the kingdom ever since.
Orphaned as an infant during Winter's defeat, Meira has lived her whole life as a refugee. Training to be a warrior—and desperately in love with her best friend, Winter's future king—she would do anything to help Winter rise to power again.
So when scouts discover the location of the ancient locket that can restore Winter's magic, Meira decides to go after it herself—only to find herself thrust into a world of evil magic and dangerous politics—and ultimately comes to realize that her destiny is not, never has been, her own.



~~~

Sudah 16 tahun berlalu sejak ditaklukkannya Kerajaan Winter, tidak ada yang tersisa dari kerajaan tersebut karena penduduknya diperbudakkan. Akan tetapi, masih ada yang selamat, 8 orang yang berjuang untuk kebebasan. Menunggu kesempatan untuk merebut conduit - saluran / sumber sihir yang masing-masing dimiliki oleh negara.
"That's how we all are, too hard for what we should be. We should be family, not soldiers. But all that really connects us is stories, memories, of what should be."
Meira, gadis yatim piatu termasuk salah satu dari 8 orang yang selamat tersebut. Ia dilatih untuk menjadi pejuang, cita-citanya untuk menjadi prajurit Winter demi membangun Winter kembali. Namun, disisi lain Sir, pemimpin dari pasukan tersebut ingin melindungi Meira. Suatu hari, Sir menemukan lokasi dimana conduit itu berada. Karena keinginan Meira, Mather, sahabatnya meyakinkan Sir agar Meira terlibat.
"Someday we will be more than words in the dark."
Apakah yang terjadi selanjutnya? Ketika Meira melakukan pengintaian, ia menemukan hal yang lain. Semakin ia terlibat, ia terjerumus ke dalam dunia yang jahat dan politik yang berbahaya. Tak hanya itu, ada kebenaran pahit yang tersembunyi yang dapat membahayakan dirinya. 

Apakah Meira dapat membebaskan dirinya dari dunia yang jahat? Apa pula kebenaran yang tersembunyi tersebut? Mengapa? 


Seperti yang kalian ketahui bahwa aku ini penggemar fantasy dan buku ini memang banyak mendapat tanggapan bagus. Maka  tidak diragukan aku membeli buku ini di Periplus. Ini pertama kalinya aku membaca karya Sara Raasch, novel ini juga merupakan karya debutnya. Harus kuakui bahwa aku sangat puas terhadap karya ini yang mendorongku untuk terus membacanya sampai akhir halaman. 

Salah satu poin plus dari suatu buku adalah permainan emosi atau perasaan yang dapat membuat pembaca ikut merasakan. Yap, Snow Like Ashes ini juga terdapat salah satu hal tersebut, di tulis dari sudut pandang sang tokoh utama, Meira. Melaluinya, aku dapat merasakan baik perasaan, emosi, simpati, maupun dendam yang dirasakan oleh Meira. Selain itu, aku juga menyukai karakternya yang kuat dan berani, sehingga membuatnya menjadi tokoh heroine wanita. Disisi lain, terkadang aku merasa jengkel karena sikapnya yang agak keras kepala yang membuatku gregetan ketika membacanya.
“No matter what happens, no matter who turns on me, no matter what pompous swine thinks he has power over me, I am still me. I will always be me.
Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah gaya penulisannya. Tidak hanya emosi, penulis mendeskripsikan latar dengan perlahan dan mendetail. Hal inilah yang membuatku dapat merasakan penderitaan Winter yang berjuang demi kebebasannya. Selain itu, aku juga dapat merasakan betapa kelam dan mengerikan dari sesuatu yang jahat tersebut, sehingga aku menjadi membayangkan rasanya menjadi orang yang selamat tersebut. Perjuangan Winter demi kebebasannya membuatku salut karena mereka tidak dengan mudah putus asa. Namun, disisi lain pendeskripsian yang mendetail juga terkadang membuatku jenuh ketika membacanya. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi halanganku untuk terus membaca.

Alurnya berjalan lambat karena latarnya adalah kerajaan seperti Game of Thrones, Graceling, dll sang penulis memperkenalkan world building dan tokoh satu persatu agar pembaca dapat memahami world buildingnya. Hal ini perlu dimaklumi karena dengan latar kerajaan dibutuhkan pemahaman pembaca agar dapat mengikuti jalan ceritanya. Meskipun berjalan lambat, hal itu tidak menjadi halanganku untuk terus membaca sampai akhir. Seiring ceritanya berjalan, potongan-potongan misteri secara perlahan terungkap dan membuatku penasaran hingga membuatku tidak berhenti membaca sampai habis, Selain itu, aku juga dipertemukan oleh plot twist yang membuatku terkejut. Buku ini juga menyimpan banyak kutipan yang bagus. Berikut ini merupakan beberapa kutipan yang kusukai.
“Holding on to some part of your past even if it means also holding on to the pain of never again having it. That pain is less horrible than the pain of forgetting.”
"Focus on the goal. Don't get sidetracked. Don't let fear take hold of you--fear is a seed that, once planted, never stops growing." 
Sejauh ini aku cukup puas dengan karya debut ini, dengan permainan emosi yang dapat membuatku terbayang-bayang akan kelamnya sampai diakhir halaman pun aku terkejut dengan plot twist yang tidak diduga olehku. Maka, tidak diragukan lagi aku akan membaca buku kelanjutannya, Ice Like Fire yang sudah terbit namun aku akan menunggu edisi Paperbacknya, hehe. Bagi penyuka fantasi, penyuka Game of Thrones, Graceling, buku ini layak dicoba, loh.

Rating:
4.5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...