Minggu, 14 Februari 2016

[Book Review] Throne of Glass

Title: Throne of Glass (Throne of Glass #1)
Author: Sarah J. Mass
Publisher: Bloomsbury
404 pages
Year of Publication: 2013 (paperback version)
In a land without magic, where the king rules with an iron hand, an assassin is summoned to the castle. She comes not to kill the king, but to win her freedom. If she defeats twenty-three killers, thieves, and warriors in a competition, she is released from prison to serve as the king's champion. Her name is Celaena Sardothien.

The Crown Prince will provoke her. The Captain of the Guard will protect her. But something evil dwells in the castle of glass--and it's there to kill. When her competitors start dying one by one, Celaena's fight for freedom becomes a fight for survival, and a desperate quest to root out the evil before it destroys her world.

~~~

“My name is Celaena Sardothien. But it makes no difference if my name's Celaena or Lillian or Bitch, because I'd still beat you, no matter what you call me.”
Caelena Sardothien, terkenal sebagai Assassin di negeri Ardalan yang ditawan di pertambangan Endovier. Artinya ia harus bekerja di pertambangan yang kejam tersebut. Hingga suatu hari ia dipanggil dan diminta untuk menjadi King's Champion dan memakai nama samaran Lilian oleh Pangeran Dorian Havilliard, serta dilatih oleh Kapten Chaol Westfall. Kebebasan akan diraihnya jika ia berhasil menjadi King's Champion, yang artinya ia harus mengalahkan 23 peserta.
"Something evil dwells in this castle, something wicked enough to make the stars quake. Its malice echoes into all worlds," the queen went on. "You must stop it. Forget your friendships, forget your debts and oaths."
Seiring waktu berjalan, ada sesuatu yang jahat tinggal di istana. Peserta untung menjadi King's Champion satu satu tewas. Oleh karena itu, Caelena harus mencari tahu penyebabnya sebelom semuanya menjadi celaka. Selain itu, perjuangan Caelena yang tadinya untuk meraih kebebasan menjadi perjuangan bertahan hidup. Untuk bertahan hidup dalam kompetisi itu sangatlah sulit karena nyawa juga dipertaruhkan

Akankah Caelena berhasil menemukan sesuatu yang jahat tersebut sebelum semuanya menjadi kacau dan celaka?
You could rattle the stars," she whispered. "You could do anything, if only you dared. And deep down, you know it, too. That’s what scares you most.”


Sejujurnya, aku sudah selesai membaca buku ini sebulan yang lalu dan rasanya agak malas untuk menulis reviewnya. Tapi, pada kali ini aku menyempatkan diri untuk menulis review tentang buku ini. Setelah lama buku ini sudah berada dalam wishlistku akhirnya aku memutuskan untuk membeli Throne of Glass english version. Selain itu, sudah beberapa lama telah masuk timbunan akhirnya terbaca juga. 

Ini merupakan pertama kalinya aku membaca karya Sarah J. Mass yang banyak ngetrend di kalangan bookstagram luar negeri. Dan akhirnya aku mengerti mengapa banyak yang suka buku ini, penyebabnya adalah world-building yang sungguh luar biasa dan membuat pembaca berimajinasi. Dari awal halaman aku sudah dibawa ke dunia yang diceritakan penulis, a land without magic. Pada bab awal, penulis sudah mengenalkan dunianya agar kita memahami suasananya dan juga mengapa peristiwa-peristiwa tertentu dapat terjadi. Hal ini lah yang membuatku sangat tertarik dan penasaran untuk mengetahui bagaiman ceritanya berjalan. Namun, aku rasa kalian harus membaca buku prekuelnya The Assassin's Blade untuk memahami lebih lanjut tentang Caelena, mengapa ia berakhir menjadi budak di pertambangan Endovier yang berlanjut pada awal buku ini. Secara pribadi, aku langsung membaca buku ini terlebih dahulu dibandingkan buku prekuelnya karena aku mengikuti jadwal terbitnya yaitu buku Throne of Glass, Crown of Midnight, kemudian The Assassin's Blade. Hal itu teserah kalian ingin memulai dari prekuel dulu atau Throne of Glass.

Buku ini dikemas menggunakan sudut pandang ketiga baik dari Caelena, Dorian, Chaol, dll. Melalui sudut pandang yang bermacam-macam ini, alur menjadi cepat karena diakhir sudut pandang masing-masing ini diakhiri oleh kalimat yang menggantung bahkan membuat pembaca penasaran. Hal yang aku sukai dari penggunaan sudut pandang ketiga ini adalah penulis masih dapat memainkan emosi pembaca melalui masing-masing tokoh.

Namun, pada awal cerita berjalan dengan lambat karena penulis hanya mengenalkan world-building dan proses seleksi untuk mendapatkan gelar King's Champion. Akan tetapi, jika membaca buku ini kalian harus bersabar karena pada pertengahan cerita menjadi klimaks ketika ada sesuatu yang jahat itu melanda istana. Artinya, misteri satu demi satu perlahan muncul dan penulis tentunya meninggalkan clue seiring ceritanya berjalan yang akhirnya membawa kita ke penyelesaian yang tidak kalian duga. Akan tetapi, ketika aku membacanya aku merasa ceritanya mudah tertebak, seperti yang kita ketahui, selera memang berbeda-beda dan aku termasuk orang yang agak quick-witted. Jadi, ketika membacanya jangan ragu untuk meneruskannya, siapa tahu bagi kalian tidak tertebak.

Karakter favoritku dalam buku ini tentunya adalah Caelena. Jarang-jarang aku menyukai tokoh utama namun dalam buku ini aku menyukai Caelena karena pemikirannya. Selain itu, aku tidak menduga bahwa Assassin yang satu ini humoris yang terkadang membuatku tertawa saat membacanya. Apalagi ketika ia sedang mengobrol dengan Chaol. Duh, aku suka banget dengan mereka ini. 
"Be quiet and act normally." His breath was hot on her neck.
"I should jump from the horse and run," she said, waving at a young man, who gaped at what he thought was a court lady's attention. "I'd vanish in an instant."
"Yes," he said, "you'd vanish with three arrows buried in your spine."
"Such pleasant talk."
“How long was I asleep?" she whispered. He didn't respond.
"How long was I asleep?" she asked again, and noticed a hint of red in his cheeks.
"You were asleep, too?"
"Until you began drooling on my shoulder.
Selain itu, Caelena juga penggemar buku dan dalam buku ini sering sekali berlatar perpustakaan dan buku juga sering disebut. Kemudian ada Dorian Havilliard yang juga memiliki kegemaran yang sama dengan Caelena, membaca buku. Interaksi mereka ini juga mengingatkan dengan interaksi antara bookworm dengan bookworms yang lain. Sampai sekarang ini aku masih tidak bisa memilih antara Chaol dengan Dorian. Keduanya sangat manis!!
Libraries were full of ideas–perhaps the most dangerous and powerful of all weapons.”
Cukup sampai situ, aku tidak ingin bercerita lebih banyak agar tidak spoiler. Secara keseluruhan aku cukup menyukai buku ini, gaya penulisannya yang tidak sulit, dan juga pembaca dengan mudah masuk kedunia ciptaannya. Aku sangat merekomendasikan buku ini kepada semua pembaca dan kalian wajib membaca buku ini. 


Rating:
4/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...