Rabu, 04 November 2015

[Book Review] The Sword of Summer

Title: The Sword of Summer (Magnus Chase and the Gods of Asgard #1)
Author: Rick Riordan
Publisher: Disney Hyperion
497 pages
Year of publication: 2015

Magnus Chase has seen his share of trouble. Ever since that terrible night two years ago when his mother told him to run, he has lived alone on the streets of Boston, surviving by his wits, staying one step ahead of the police and truant officers.
One day, Magnus learns that someone else is trying to track him down—his uncle Randolph, a man his mother had always warned him about. When Magnus tries to outmaneuver his uncle, he falls right into his clutches. Randolph starts rambling about Norse history and Magnus’s birthright: a weapon that has been lost for thousands years.
The more Randolph talks, the more puzzle pieces fall into place. Stories about the gods of Asgard, wolves, and Doomsday bubble up from Magnus’s memory. But he doesn’t have time to consider it all before a fire giant attacks the city, forcing him to choose between his own safety and the lives of hundreds of innocents. . . .
Sometimes, the only way to start a new life is to die.


~~~

Semenjak kematian misterius ibunya, Magnus Chase tinggal sendirian di jalanan Boston. Bertahan hidup, mencari makan, menghindari polisi yang mengejarnya. Itupun Magnus melakukannya sendiri, bersama dengan kawan-kawannya, Blitz dan Hearth.
"But... they're myths. They're not real."
Randolph gave me a sort of a pitying look. "Myths are simply stories about truth we've forgotten."
Hingga suatu hari, kehidupan Magnus berubah total. Bermula dari pamannya, Uncle Randolph memberitahunya tentang Mitologi Viking. Hal itu membawa Magnus dalam bahaya. Mau tidak mau Magnus harus percaya karena ada bahaya sedang menghadang di depan mata. 
His nose wrinkled as if he detected a mildly unpleasant odor. "You're sixteen today, aren't you? They'll be coming to kill you."
Api membakar kota Boston yang disebabkan oleh Surt, seorang raksasa. Magnus langsung menghadapinya demi menyelamatkan kota. Kemudian, Magnus harus menemukan The Sword of Summer, pedang musim panas dan segera menemukan cara untuk menggunakannya sebelum orang lain. Jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi cepat atau lambat. Namun, itu hanya permulaannya. 

Dihadapkan oleh pilihan yang sulit karena pilihan yang salah dapat menimbulkan hal yang buruk dan melewati berbagai rintangan yang rumit, bahkan harus mempertaruhkan nyawanya. Berhasilkah Magnus memilih jalan yang benar dan mempertaruhkan nyawanya untuk menghindari sesuatu yang buruk? Berhasilkah Magnus menemukan pedangnya dan menemukan cara sebelum orang lain?  Ayo, ikuti petualangan Magnus yang seru!


Setelah menamatkan seri Percy Jackson dan Heroes of Olympus, serta buku pendamping lainnya, harus kuakui Rick Riordan memang membuatku tidak bisa move on. Sungguh senang ketika mendengar bahwa sang penulis akan menerbitkan seri lainnya bercerita tentang dewa-dewa Nordik. Langsung saja ku Preorder buku ini di Periplus dan membacanya ketika sudah sampai di tangan. Tentu saja, hasilnya tidak mengecewakan! It's time to dive into this world!

Sebelumnya sang penulis sudah menerbitkan seri dengan perpaduan mitologi yang berbeda-beda. Dalam karya Percy Jackson bedasarkan unsur Yunani kemudian, Heroes of Olympus dengan perpaduan mitologi Yunani dan Romawi, dan Kane Chronicles yang bedasarkan mitologi Mesir. Semua itu sudah kubaca dan sangat tidak mengecewakan. Sekarang, saatnya berkenalan dengan mitologi Viking! I'm so excited!

Buku ini ditulis menggunakan sudut pandang pertama dari pihak Magnus dengan sarkasme. Tentu saja, karakternya mengingatkanku dengan Percy Jackson dan sangat terhibur ketika membacanya. Kemudian, ada Blitz dan Hearth, kedekatan antara keduanya membuatku terkesan, mereka saling menolong dan peduli terhadap satu sama lain. Bahkan ada waktunya mereka berdebat namun cepat baikan lagi. Yang membuatku menyukai buku ini adalah kehadiran Annabeth dalam buku ini, meskipun tidak terlalu banyak. 


Sungguh, aku sangat terkesan dengan gaya sang penulis dalam menceritakan bagaimana ceritanya berjalan seiring waktu. Aku sungguh salut dengan sang penulis dalam hal membuat judul bab yang berhasil mengundang tawa. Hal ini membuatku sangat bersemangat untuk membacanya. Sama seperti seri sebelumnya, gaya penulisan Rick Riordan masih sama, mengandung humor. Selain itu, penceritaannya mengingatkanku dengan suasana Percy Jackson. Tentu saja, membuatku tambah kangen dengan karakter yang satu ini. Selanjutnya, sang penulis sangat ahli dalam memadukan unsur-unsur mitologi dengan unsur modernya sehingga membuat pembaca tidak selalu merasa jenuh.
"Gunilla"-Sam's voice tightened-"this is Magnus Chase."
I held out my hand. "Gorilla? Pleased to meet you."
The most unreal thing about the bar was Taylor Swift's "Blank Space" blasting from the speakers.
"Dwarves like human music?" I asked Blitzen
"You mean human like our music."
Dari awal halaman, buku ini memang sudah membuatku penasaran. Misteri secara perlahan terungkap dan membuat penasaran. Seperti seri sebelumnya, bagaimana penyelesaian misteri tersebut terkadang terganggu dengan situasi yang sedang dihadapi Magnus. Hal inilah yang membuatku tidak bisa berhenti membaca dan terdorong untuk membalik halaman demi halaman demi mencari tahu jawaban dari misteri tersebut.  Disisi lain, aku rasa ada beberapa bagian yang membuatku merasa jenuh namun, hal tersebut tidak menjadi halangan untuk meneruskannya.

Hal yang paling menonjol dari buku ini adalah humornya. Setiap halaman pembaca pasti akan dibuat tawa oleh sindiran Magnus dan juga oleh percakapan antar tokoh. Banyak adengan favoritku dalam buku ini, namun aku tidak akan menyebutkannya. Buku ini penuh dengan petualangan yang seru dan menghibur dari awal halaman sampai akhir. Mengenai ending, aku cukup menyukai dan juga sangat terkejut karena tidak menduga akan hal tersebut. Kalian harus membaca buku ini dijamin, tidak akan menyesal dan tertawa begitu membacanya. 

Secara keseluruhan, aku sangat menyukai buku ini dengan perpaduan mitologi dengan unsur modern yang pas dan juga dibuat tertawa. Seperti yang sudah kubilang, endingnya yang membuatku terkejut membuatku sangat tidak sabar menunggu buku keduanya. Tentunya, aku tidak mengubah keputusanku dengan tetap membaca karya Rick Riordan seterusnya. 

 Rating:
4.5/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...