Minggu, 04 Oktober 2015

[Book Review] Girls in the Dark

Judul: Girls in the Dark
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal: 284 halaman
Cetakan IV, Agustus 2015

Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu...?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi....


Kau... pernah berpikir ingin membunuh seseorang?

~~~

Ketua Klub Sastra dari sekolah SMA Putri Santa Maria, Shiraisi Itsumi meninggal. Ia meninggal dengan setangkai bunga lily dalam genggamannya. Sudah seminggu berlalu, tidak ada yang tahu apakah itu pembunuhan atau bunuh diri. 
"Kenapa Itsumi harus mati? Kemudian... apakah benar ada di antara kita yang membunuhnya?"
Untuk mengenangnya, para anggota Klub Sastra berkumpul untuk pembacaan naskah dengan tema "Kematian Itsumi" yang dipimpin oleh sahabatnya, Sumikawa Sayuri". Masing-masing anggota membaca naskah yang telah dibuat tentang analisis siapa pelaku yang sebenarnya. Satu per satu naskah dibaca. Namun, ada yang janggal. Naskah itu bertentangan dengan naskah sebelumnya.  
"Mungkin inilah tujuan sebenarnya acara kali ini. Untuk mengenang kematian seseorang dengan perasaan yang sebenarnya.
Tetapi... isi naskahmu tadi benar-benar menarik, ya. Kau ingin mengatakan bahwa kau tahu siapa penjahat sebenarnya. Tetapi, ada kenyataan yang bertentangan dengan naskah yang sebelumnya. Sebenarnya, apa kenyataannya...?"
Mengapa naskah-naskah itu bertentangan dengan naskah lainnya? Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? 


Buku ini sudah berada dalam wishlistku dalam waktu yang lama. Baru tercapai ketika membelinya di IIBF 2015. Banyak yang menyukai buku ini dan kabarnya plot twistnya sangat tidak terduga. Hal itulah yang mendorongku untuk segera membelinya. Aku tertarik dengan buku ini bahkan ketika membaca sinopsisnya yang mengundang rasa penasaran. 

Membaca buku ini, aku menjadi tahu atas budaya Jepang dan berbagai jenis makanan Eropa yang disuguhkan. Cerita dimulai dengan pembukaan yami nabe yang diadakan di Klub Sastra untuk pertemuan itu, dimana peserta membawa bahan yang hanya diketahui oleh pembawanya dan kemudian dicampur, kemudian dicicipi. Tentunya, tradisi yami nabe ini sangat unik sekaligus bikin deg-degan. 

Buku ini ditulis dengan berbagai sudut pandang dari anggota klub sastra, termasuk Sumikawa Sayuri, pemimpin klub sastra. Penggunaan sudut pandang yang berbeda inilah yang menjadi keunikkan buku ini, karena masing-masing memiliki gaya penulisan yang berbeda. Selain gaya penulisan, karakter dan kemampuan masing-masing anggota juga berbeda-beda. Ada yang gemar memasak, gemar menulis, dsb, Kemudian, kedekatan Itsumi dan Sayuri ini yang paling membuatku terkesan meskipun mereka bertolak belakang, mereka saling melengkapi dan membantu satu sama lain. 
Kami berdua adalah satu. Itsumi sering mengatakan: "Ah... kalau tidak ada Sayuri, aku tidak tahu bakal jadi apa". Itu pun sama dengan saya. Kalau tidak ada Itsumi, banyak hal yang tidak bisa saya alami.
Alurnya berjalan lambat diawal karena masih pengenalan kehidupan masing-masing sampai analisis mereka tentang kejadian itu. Namun, semakin berjalannya cerita, alur menjadi terasa cepat. Pendeskripsian latar dan suasana ini sangat terasa bagaikan menonton film di otak. Aku bisa merasakan kemewahan salon sastra (tempat berkumpulnya)  dan juga makanan-makanan Eropa yang membuatku ingin mencicipinya. Selain itu, emosi yang dirasakan oleh karakter-karakternya juga ikut aku rasakan. Bahkan aku juga merasa tegang saat pembacaan naskah selesai, karena pandanganku tentang tokoh yang semula kusangka tidak bersalah menjadi berubah. 

Oleh karena itu, aku menjadi penasaran karena masing-masing naskahnya bertentangan dengan sebelumnya dan bertanya-tanya di dalam hati: "Apa yang sebenarnya terjadii??" Hal inilah yang membuatku tidak bisa berhenti membaca dan membalikkan halamannya dengan cepat. Kemudian, endingnya mampu membuatku sangat terkejut bahkan aku sampai membaca ulang. Sepanjang aku membaca buku ini, aku menduga-duga siapa pembunuhnya, ketika sampai bagian akhirnya, dugaanku memang salah. Benar-benar tidak dapat diduga! 

Terjemahannya bagus dan tidak kaku. Selain itu, ada catatan kaki bagi istilah-istilah yang kurang umum agar pembaca dapat memahami. Sejauh ini, aku menyukai ceritanya dan plot twistnya yang epik! Setelah membaca buku ini, aku memutuskan akan segera membeli dan membaca buku karangan Akiyoshi Rikako selanjutnya, The Dead Returns. 

Rating:
4/5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...